Minggu, 22 Agustus 2010
Mengucap Syukur
‘Mengucap syukurlah atas segala hal,sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu’ (1Tesalonika 5: 18)
Dua penginjil wanita tinggal di Nanking. Yang sorang penyabar, tenang, dan pendiam. Yang seorang mudah tersinggung dan pemarah. Untuk menghadapi tahun baru, mereka sepakat sepanjang tahun yang baru itu akan selalu mengucap syukur kepada Tuhan. Selalu, apakah keadaan baik maupun buruk.
Pada suatu hari, di luar dugaan, mereka mendapat kiriman sejumlah uang, khusus untuk mereka gunakan membeli keperluan pribadi. Mereka memesan sebuah permadani Peking yang mahal, warna dasarnya biru dan di atasnya terdapat gambar bunga yang sangat indah. Permadani itu sampai kepada mereka agak malam. Karena itu mereka meletakkannya di dekat meja kerja. Mereka akan menghamparkannya keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali penginjil yang pemarah itu bangun. Ia langsung ke kamar kerja melihat permadani. Hampir saja dia mengamuk melihat noda tinta tepat di tengah-tengah permadani itu. Siapa yang melakukan perbuatan sekeji ini? Temannya si pendiam itu, terbangun dan bergegas datang. Dia mengingatkan akan kesepakatan mereka untuk mengucapkan syukur kepada Tuhan, apapun yang terjadi.
Akhirnya mereka sepakat untuk menepati janji, mereka berdoa mengucap syukur kepada Tuhan. Juga pada saat ini, walaupun terjadi. Tiba-tiba pembantu mereka muncul dari balik pintu. Wajahnya pucat dan kakinya gemetar. Ia ketakutan. Dengan terbata-bata ia berkata. ‘Saya telah melayani kalian selama tujuh tahun. Selama itu saya tidak mau menerima Kristus, karena nona selalu memarahi dan memaki-maki saya, juga atas kesalahan kecil yang tidak saya sengaja. Hari ini saya datang lebih dini. Tanpa sengaja botol tinta tersenggol oleh saya dan jatuh ke atas permadani baru itu. Saya ketakutan. Tapi saya tidak bisa percaya, kalian justru mengucapkan terima kasih kepada Tuhan atas peristiwa itu. Tidak memaki-maki dan mengutuki saya. Kalau Tuhan dapat mengubah nona seperti ini, saya pun akan mengikuti Dia.