Selasa, 3 Agustus 2010
ROMA
2. Iman Abraham
Roma 4 : 1 - 25
Dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan. Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran. ( 4 : 21 - 22 )
Melalui firman Roma 3, kita telah belajar tentang prinsip pembenaran oleh iman. Rasul Paulus menunjukkan iman Abraham sebagai contohnya. Abraham mempercayai janji Allah secara sempurna dalam keadaan tanpa pengharapan sama sekali. Akibatnya dia disebut sebagai leluhur iman bagi semua orang sampai masa kini.
Kepercayaan dan keyakinan Abaraham akan Allah adalah iman seratus persen, tanpa cela sedikitpun. Dia percaya kekuatan Allah yang menciptakan yang ‘ada’ dari yang ‘tiada’. Dia percaya rencana Allah yang mengenal dia lebih dari pada siapapun, tanpa kekhawatiran atau kecemasan, karena itu imannya dianggap Allah sebagai kebenaran. Kebenaran oleh iman bukan oleh perbuatan.
Manusia sering berusaha menyatakan kebenarannya melalui banyak perbuatan sebagai bukti iman. Akan tetapi, iman tidak diakui melalui perbuatan, dan bukanlah suatu usaha untuk menjadikan seorang terlihat hebat di hadapan Allah. Iman adalah mengakui kelemahan dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah yang mengetahui segala sesuatu. Iman adalah sikap yang rendah hati, yang membuat Allah berkarya melalui kita.
Oleh iman kita dibenarkan, dan di dalam iman kita akan hidup dan berkarya bagi kemuliaan Bapa di Surga.
Hanya oleh Iman